Awalnya gue datang ke Simak Siar Vol. 26 karena dorongan rasa penasaran pada Smarai—band baru yang sebenarnya nggak baru-baru amat—asal Yogyakarta. Simak Siar sendiri adalah gigs bulanan yang rutin diadakan oleh Hectic Creative di Yogyakarta, dengan satu misi konsisten: mempertemukan band-band baru dengan calon pendengarnya. Tapi balik lagi ke topik utama.
Smarai adalah band pop pendatang baru dari Yogyakarta. Meski terbilang baru, wajah-wajah di dalamnya jelas bukan orang sembarangan di belantika musik Indonesia. Band ini digawangi oleh Dhedot, drummer Letto, yang kini bertransformasi menjadi frontman sekaligus vokalis Smarai. Perpindahan posisi yang cukup mengejutkan—termasuk buat gue—dan ternyata, Dhedot bisa nyanyi enak.
Selain itu, ada Bagoes Kurniawan alias Bagus Tikus. Banyak orang hari ini mungkin mengenalnya lewat TikTok, dari video-video kuliner Jogja yang dikemas seperti dokumenter pendek. Videonya rapi, informatif, dan selalu bikin lapar. Tapi jauh sebelum itu, Bagus juga pernah aktif main band, sebelum akhirnya lebih dikenal sebagai sutradara film. Di Smarai, ia mengisi posisi drum.

Yang bikin gue penasaran dengan Smarai adalah satu hal sederhana: mereka baru punya satu single dan satu music video berjudul “Ajari Aku”, yang langsung meledak dan jadi semacam kartu nama mereka. Lagunya catchy, gampang nempel, dan jujur bikin gue langsung jatuh hati sejak pertama dengar di YouTube. Pertanyaannya: selain lagu itu, materi apa lagi yang mereka bawa?
Rasa penasaran itu akhirnya terjawab di Simak Siar Vol. 26. Smarai membawakan materi-materi dari album perdananya yang direncanakan rilis tahun 2026. Mereka tampil di urutan kedua setelah Impromptu. Setelah mendengarkan beberapa materi barunya, keyakinan gue makin kuat: Smarai adalah band yang akan semakin bersinar ke depan. Apalagi dengan kondisi Sabrang yang kini sibuk di Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Dhedot tampaknya punya ruang dan waktu lebih luas untuk fokus membangun Smarai.
Sebagai penutup Simak Siar Vol. 26, tampil Sophie—band pop alternative asal Yogyakarta yang namanya sempat besar di era 2000-an. Lagu-lagu mereka dulu akrab di radio dan televisi. Salah satu hits mereka, “Kenangan Menyakitkan”, kini diaransemen ulang dan dirilis lewat Polarity Records.
Bagi pendengar musik generasi millennial, Sophie jelas bukan nama asing. Banyak yang menyambut kembalinya band ini dengan nostalgia dan pujian. Tapi sayangnya, nostalgia saja belum cukup. Gue kira Sophie akan menarik penonton dalam jumlah besar malam itu. Nyatanya, jumlah penonton mereka hanya sekitar setengah dari penonton Smarai yang sebelumnya memenuhi area Milli by Shaggydog.

Semua personel Smarai terlihat ikut menonton Sophie dan sing along bersama segelintir penonton lain yang—jujur saja—rata-rata sudah di atas kepala tiga. Termasuk gue. Di titik ini, kontras generasi terasa cukup jelas.
Berbeda dengan Smarai yang diisi wajah-wajah lama tapi mampu menarik pendengar baru, Sophie terlihat masih bergantung pada basis pendengar lamanya. Yang datang menonton adalah mereka yang rindu, bukan mereka yang baru jatuh cinta. Katanya, Sophie akan merilis karya baru dalam waktu dekat. Kita tunggu saja. Tapi satu hal jelas: strategi marketing mereka nanti harus benar-benar bekerja kalau ingin menembus generasi baru. Harus.
Dua penampil lainnya adalah Impromptu dan Flow Fist. Keduanya merupakan band indie pop asal Yogyakarta yang sudah punya basis pendengar sendiri.

Di Simak Siar Vol. 26, Impromptu memperkenalkan vokalis baru mereka. Menurut gue, pilihan ini tepat. Karakter vokalnya terdengar seperti anak-anak—lucu, ringan—dan membuat musik Impromptu terasa makin manis dan “cute”. Gue cukup penasaran dengan karya baru mereka, mengingat mereka juga sedang dalam proses menyiapkan rilisan baru.
Flow Fist tampil di urutan ketiga setelah Smarai. Band ini sempat viral di TikTok, dengan video-video yang ditonton jutaan kali. Bukan cuma karena konten hariannya, tapi juga karena karya mereka memang disukai. Salah satu lagunya, “Love Is Not Enough”, jadi bukti paling nyata. Meski begitu, basis pendengar Flow Fist di Jogja tampaknya belum terlalu besar. Saat tampil di Simak Siar, penonton mereka tidak sebanyak band lain. Untungnya, Flow Fist tetap berhasil menghangatkan suasana lewat gimmick sederhana: membagikan bunga ke penonton dan merchandise gratis.

Pada akhirnya, Simak Siar Vol. 26 terasa seperti jembatan pop lintas generasi. Dua band pop yang tumbuh di era millennial dan dua band pop yang dicintai Gen Z. Warna musiknya pun berbeda dan terasa sangat kontekstual dengan usia pendengarnya. Smarai dan Sophie membawa pop alternative dengan nuansa khas 2000-an, sementara Impromptu dan Flow Fist hadir dengan indie pop yang akrab di telinga pendengar hari ini.
Semoga Smarai dan Sophie benar-benar bisa memperluas jangkauan pendengarnya ke generasi baru. Dan semoga Impromptu serta Flow Fist makin diterima secara nasional.




