Minggu, 15 Februari 2026 — band nu core / alternative metal asal Bandung, 510, sukses menggelar konser tunggal dengan konsep orchestra set di JNM Bloc, Yogyakarta. Ini pertama kalinya gue datang ke konser tunggal mereka.
Sebenarnya gue sempat pengen banget datang ke pesta rilis EP Spiritual bertajuk 510 Cult Ministry di Bandung. Konsepnya menarik, banyak kolaborator, plus orchestra set juga. Tapi gue nggak sempat ke sana. Begitu tahu mereka bikin special show di Jogja dengan konsep serupa, tanpa banyak mikir gue langsung beli tiket.
Show ini jelas seru dan berkesan. Tapi tetap ada beberapa catatan yang menurut gue bisa jadi ruang evaluasi, baik buat 510 maupun Hectic Creative sebagai penyelenggara, kalau ke depan mau bikin special show lagi. Oke, ini review gue. Mau baca yang baik atau buruknya duluan? Gue kasih yang pedes-pedesnya aja dulu deh ya, abis itu yang manis-manisnya. Kita mulai.
Orchestra Hanya Tempelan Pengganti Sequencer?
Waktu pertama kali lihat poster dengan embel-embel “orchestra set”, ekspektasi gue langsung tinggi. Di kepala gue kebayang konser kayak Bring Me The Horizon di Royal Albert Hall, atau Parkway Drive di Sydney Opera House. Minimal sekelas Killchestra-nya Burgerkill lah.
Gue juga membayangkan venue-nya bakal indoor seperti di Bandung. Ternyata outdoor.
Soal venue, gue pun sempat mikir keras: di Jogja, tempat mana sih yang ideal buat orchestra set tapi tetap bisa mengakomodir keliaran moshpit metalhead? Menurut gue pribadi, orchestra memang lebih cocok dimainkan indoor. Tapi ya, ini PR panjang, bahkan bisa jadi PR pemerintah daerah soal ketersediaan venue representatif.
Masalah utamanya: orchestranya terasa seperti tempelan.
Di beberapa bagian lagu—tergantung posisi lo nonton—orchestra nyaris nggak berasa. Jadinya, orchestra set di sini lebih terasa sebagai pengganti sequencer yang biasa mereka pakai, cuma dalam bentuk yang lebih megah secara visual.
Secara musikal, 510 tetap sangat dominan. Memang ini konser 510 dengan tambahan orchestra, bukan sebaliknya. Nggak salah. Tapi gue berharap ada aransemen ulang atau reinterpretasi yang membuat lagu-lagu mereka terasa “lebih orchestra”, bukan sekadar dilapisi string.
Kalau mau benar-benar jadi show orchestra yang kuat, justru tim orchestranya harus punya peran lebih signifikan. Gue pribadi masih menunggu kolaborasi metal-orchestra yang benar-benar megah, agresif, bahkan sampai melahirkan rilisan bersama. Jangan berhenti di album Killchestra Burgerkill.
Ruang Moshpit Terlalu Sempit
Entah berapa ribu tiket yang terjual malam itu. Perkiraan gue sekitar 1.500 orang memadati area JNM Bloc yang menurut gue terasa sempit.
Begitu masuk area konser, reaksi pertama gue: “Yakin nih di sini?” Ruang moshpit untuk konser tunggal band metal dengan fanbase sebesar 510 terasa terlalu kecil.
Dan benar saja, penonton nyaris nggak punya ruang napas. Walaupun outdoor, kalau padatnya seperti itu ya tetap sesak. Gue awalnya berdiri di belakang dekat booth merchandise. Untuk bisa sampai ke tengah pit, gue harus desak-desakan lumayan brutal.
Gue sempat ikut circle pit dan meliar bareng 510squad. Seru banget. Tapi gue nggak lama di tengah. Napas habis, dan jujur aja… beberapa penonton bau badan parah. Sumpah. Keringat semua, campur aduk. Ini juga jadi keluhan beberapa orang yang gue dengar.
Tapi di balik itu semua, solidnya 510squad di tengah pit nggak bisa dipungkiri. Kalau gue cuma diam di belakang, gue nggak akan ngerasain hangatnya kekeluargaan itu.
Cuma gue kasihan sama penonton di belakang yang sebagian ketutup pohon dan booth merchandise. Secara visual, mereka nggak dapat pengalaman maksimal.
Gimmick Tumpang Tindih, Maunya Apa Sih?
Ternyata orchestra bukan satu-satunya gimmick malam itu.
Show ini dibagi jadi tiga babak. Setiap pembuka babak ada pertunjukan wayang—meskipun dalam format video. Ceritanya mengisahkan perjalanan 510 dari era Slap It Out sampai masuknya Ronal sebagai bassist tetap.
Konsepnya menarik. Tapi dalang cilik yang membawakan cerita menggunakan bahasa Jawa tanpa subtitle yang jelas terlihat. Entah memang nggak ada subtitle atau ketutup set panggung. Hasilnya, cuma beberapa orang yang paham dan tertawa di momen-momen lucu. Banyak penonton lain terlihat bingung.
Belum selesai di situ. Semua personel 510 juga tampil dengan kostum Jawa. Ichal naik panggung pakai beskap dan blangkon. Seru sih, melihat orang-orang Bandung berubah jadi mas-mas Jawa dalam semalam.
Masalahnya muncul di babak ketiga. Sekelompok orang berjubah hitam naik ke panggung membawa bendera 510. Bendera-bendera ini justru menutup layar yang sedang menampilkan pertunjukan wayang. Beberapa penonton belakang sampai protes karena nggak kelihatan.
Di titik ini gue mulai bertanya: sebenarnya mereka mau serius menampilkan wayang atau tidak?
Terlalu banyak gimmick akhirnya bikin semuanya terasa setengah-setengah. Orchestra kurang maksimal, wayang kurang fokus, visual ketutup bendera. Penonton jadi nggak tahu harus fokus ke mana.
Semua Penggemar Musik Bersatu
Sejauh ini, gue berani bilang mungkin cuma 510 yang bisa menyatukan semua jenis penikmat musik dalam satu ruang yang sama.
Mulai dari metalhead sampai mbak-mbak pendengar musik pop galau, semuanya ada di show itu. Biasanya kalau gue datang ke festival atau gigs musik keras, dari tampilan dan gestur penontonnya saja sudah kelihatan kalau mereka satu frekuensi sebagai penikmat musik keras. Tapi malam itu beda. Gue melihat ke segala arah, dan penontonnya benar-benar beragam.
510 ada di posisi yang unik. Mereka tetap band metal, tapi bisa merangkul pendengar di luar lingkar metalhead. Ibaratnya seperti Bring Me The Horizon atau Linkin Park, yang bisa diterima luas tanpa harus kehilangan identitasnya.
Gue juga sempat mewawancarai Rachellia Novani a.k.a. Vani yang berani naik ke atas panggung menggantikan Fanny Soegi di lagu ‘Amo’. Ya, sangat kebetulan nama mereka mirip, cuman yang ini asalnya Temanggung, Jawa Tengah.
Vani bukan seorang metalhead, dia menolak untuk dikotakkan penikmat satu genre musik. Tapi di show 510 Genesis Spiritual Return to Origin, dia sangat-sangat menikmati show yang penuh dengan metalhead.
“Iya itu pertama kali aku dateng ke konser yang banyak metalheadnya, tapi menurutku seru banget sih bang karena aku juga ikutan headbang di antara sekian banyaknya cowok-cowok.”
Menyanyi di hadapan metalhead bukanlah hal yang mudah. Coba bayangin, lu seorang penyanyi pop kayak Fanny Soegi, tapi di hadapan ratusan atau ribuan penonton dengan visual garang.
“Sumpah sih bang nggak nyangka dan seneng bangettttt, nggak nyangkanya tu karena aku kan ada di barisan belakang di antara cowok-cowok di situ juga pasti banyak yang tunjuk tangan apa lagi yang barisan depan, ya siapa coba yang gak mau diajak ke atas panggung , ternyata Bang Ical notice aku buat nyanyiin lagu AMO di partnya kak Fanny Soegi. Rasanya kayak mimpi bang huhuuuu, sumpah seneng banget agak takut juga kalau penampilannya mengecewakan.”
“Di atas panggung sempet ngeliat penonton sambil deg-degan karena nyanyi ancamannya kursi setrum kan , reaksi mereka mungkin ada yang kecewa karena gabisa naik ke atas panggung apalagi waktu bang ical rangkul aku mereka pasti nggak terima bang hihii. Di panggung aku izin sama bang ical untuk baca lirik karena jujur aku belum menguasai lagunya tapi waktu aku udah mulai nyanyi dan walau ada beberapa lirik yang salah tapi penonton mulai support dan tepuk tangan di situ aku happy banget part kak Fanny kan nadanya tinggi ya bang, ada ketakutan kalau nggak kuat bawain lagunya juga . Tapi setelah selesai aku lega banget sih bang happy pollllll.” – testimoni Vani setelah nyanyiin ‘Amo’ di panggung.
Gue sendiri menyaksikan momen itu dari barisan belakang. Begitu Vani selesai menyanyi, penonton langsung memberikan dukungan. Tepuk tangan dan sorakan terdengar jelas.
Di situ gue merasa, 510 berhasil menciptakan ruang yang terbuka. Metalhead tetap meliar, tapi penonton dari luar lingkar itu tetap merasa diterima.
Moshpit Liar Tapi Aman
Besoknya gue kerja. Umur juga sudah kepala tiga. Tapi tetap saja gue nggak bisa menahan diri untuk masuk pit.
It was so fun.
Di tengah moshing, gue sempat dengar seorang cewek bilang ke pacarnya, “Sayang ih takut.” Kayaknya dia bukan metalhead. Tapi semuanya aman. Metalhead meliar, tapi tetap saling jaga.
Seperti Vani, sepertinya banyak juga orang yang pertama kali melihat betapa liarnya metalhead melepas energi-energi negatifnya di moshpit.
Pada Akhirnya
Dari awal sampai akhir, hampir nggak ada lagu yang nggak dinyanyikan bareng. Semua materi dari album Origin dan Spiritual dibawakan. Confetti di akhir jadi klimaks yang manis.
Ya, masih ada kekurangan: orchestra yang belum maksimal, venue yang terlalu sempit, gimmick yang tumpang tindih. Tapi secara energi dan dampak emosional, show ini tetap berkesan.
510 membuktikan bahwa mereka bukan cuma band metal. Mereka adalah band yang bisa merangkul siapa pun. Mau lo metalhead atau bukan, tetap bisa menikmati dan merasa jadi bagian.
Mau dibilang band pop juga silakan. Nyatanya, metalhead kayak gue tetap ikut meliar dan bahagia di sana.




